Kuskus (Phalangeridae) di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih

December 28, 2011 No Comments »

oleh: Sumaryono, S.Hut *)

kuskus kecilPapua merupakan salah satu provinsi yang terbesar dan terletak di kawasan paling timur Indonesia, papua memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang sangat melimpah, baik yang ada di darat maupun di perairan, serta tersebar luas pada pulau-pulau di provinsi papua ini, baik pulau besar maupun pulau kecil. Selain itu, Papua juga dikategorikan sebagai belantara tropis utama dengan biodiversitas unik serta konsentrasi endemisitas flora dan fauna yang bervariasi, sehingga perlu diprioritaskan untuk kebutuhan konservasi (Conservation International, 1999 dalam Astuti, 2005). Salah satu kelompok fauna dengan diversitas yang tinggi adalah mamalia. Di Papua terdapat ±164 jenis mamalia yang telah didokumentasikan, dimana 30 spesies diantaranya adalah spesies langka dan sedikitnya 16 spesies tercantum dalam Red data Book (RDB) International Union for Conservation of the Natural Resources (IUCN), dan salah satunya adalah Kuskus.

Dalam RDB IUCN kuskus berada dalam status terancam dan rentan (Conservation International, 1999 dalam Astuti, 2005). Berbagai usaha pelestarian kuskus telah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) terkait. Beberapa upaya pelestarian yang dilakukan adalah dengan diterbitkan kebijakan di dalam UU perlindungan dan penetapan kawasan konservasi baik di darat maupun di laut.

Kegiatan eksplorasi kuskus di papua telah dilakukan oleh beberapa peneliti diantaranya, petocz (1987), Flannery (1995), Desmerest (1818 dan 1822) disitasi Menzies (1991) yang dikutip Astuti, 2005. Berdasarkan hasil eksplorasi yang dilakukan, dilaporkan bahwa terdapat 7 jenis kuskus di Papua, yaitu Spilocuscus maculates, Spilocuscus rufoniger, Spilocuscus papuensis, Phalanger orientalis, Phalanger gymnotis, Phalanger vestitus dan Phalanger permixtio.

Habitat Kuskus

Kuskus merupakan mammalia arboreal yang habitatnya secara umum adalah di hutan, baik hutan primer maupun sekunder dan secara topografis kuskus dapat dijumpai terbatas pada dataran rendah sampai dataran tinggi (0 – 1200) meter dpl (Flannery, 1995 dalam Astuti, 2005).

Kuskus yang ditemukan di Pulau Numamurem kawasan TNTC berada di atas pohon yang cukup tinggi sekitar 15 – 25 meter di atas tanah, hal ini sesuai dengan pernyataan (Mackinon, 1998 dalam Astuti, 2005) dimana secara umum semua jenis kuskus mendiami dan hidup di atas puncak pohon dan jarang turun ke tanah. Bagian tanaman yang dikonsumsi oleh kuskus adalah daun dari tanaman tersebut, nampak kuskus yang ditemukan di Pulau Numamurem sedang melakukan aktifitas makan daun Artocarpus communis. Selain daun juga memakan buah yang masak maupun muda, pucuk daun dan bunga. Selain bersifat herbivora kuskus kadang mengkonsumsi jenis insect, vertebrata kecil, telur burung, kadal dan lain-lain (Petocz, 1994 dalam Astuti, 2005). Kuskus umumnya menyukai makanan berupa serangga, binatang kecil, hingga telur burung. Bisa bertahan hidup di daerah hutan hujan tropis. Mereka jenis hewan yang suka menyendiri pada waktu memburu makanan. Biasanya mencari makan pada malam hari karena dianggap aman dari incaran musuh.

Jenis Kuskus yang ditemukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih

Hasil penelitian dan survey (2005 dan 2010) yang dilakukan di 3 pulau dalam kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Pulau Yoop, Pulau Numamurem dan Pulau Anggromeos) ditemukan 2 jenis kuskus yaitu Spilocuscus rufoniger (kuskus merah totol hitam) dan Phalanger orientalis (Kuskus abu-abu). Kuskus sudah sejak lama diburu untuk dimanfaatkan daging, bulu, dan giginya oleh penduduk setempat. Kegiatan perburuan dan penangkapan di alam serta perdagangan yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terancamnya keberadaan satwa tersebut di habitat aslinya. Beberapa jenis kuskus bahkan sudah tergolong dalam kategori terancam punah (endangered) dan menuju kepunahan (vulnerable). Saat ini sebagian besar dari famili Phalangeridae secara hukum dilindungi dan tercantum dalam Appendix II Konvensi CITES (daftar appendix CITES, 14 Oktober 2010).

Spilocuscus rufoniger

Satwa ini merupakan salah satu jenis satwa mammalia yang dilindungi (PP No. 7 Tahun 1999). Ciri-ciri kuskus dari jenis Spilocuscus rufoniger dapat dijelaskan sebagai berikut (Astuti, 2005):

Deskripsi :

Spilocuscus rufoniger jantan : bagian kepala memiliki warna yang didominasi coklat dan putih, warna sekitar mata dan telinga dengan pinna bagian dalam tertutup bulu dan pada bagian ventral kepala terdapat warna bulu putih kontras. Bagian dorsal umumnya bertotol yang menyebar dan berwarna hitam pada bagian warna coklat yang meluas hingga ke sisi tubuh dan bagian sisi luar kaki depan dan belakang. Pada bagian ventral umumnya berwarna putih kontras dari kepala hingga ke bagian sekitar kloaka. Ekor kuskus jantan berwarna krem pada bagian permukaan ekor berbulu sedangkan pada bagian tidak berbulu berwarna orange. Untuk ukuran tubuh cenderung lebih besar dari pada kuskus betina (Astuti, 2005).

Spilocuscus rufoniger betina : warna tubuh didominasi oleh warna coklat dan tidak memiliki totol, pada bagian kepala tepatnya di sekitar hidung tidak ditumbuhi bulu dan warna bagian kulit di bagian tersebut berwarna orange. Bagian dorsal dari kepala hingga ke bagian kloaka berwarna coklat kehitaman. Ventral jenis kuskus betina umumnya berwarna putih kontras, warna ini meluas hingga bagian sisi dalam kaki depan dan belakang. Pada bagian ekor hampir mirip dengan kuskus jantan.

Phalanger orientalis

Jenis kuskus ini tidak ditemukan langsung ketika dilakukan pengamatan, tetapi berdasarkan informasi masyarakat sering melihat jenis kuskus putih keabu-abuan (Phalanger oriantalis). Jenis ini juga merupakan jenis satwa yang dilindungi (PP No. 7 Tahun 1999). Ciri-ciri kuskus jenis Spilocuscus rufoniger dapat dijelaskan sebagai berikut (Astuti, 2005):

Deskripsi:

Phalanger orientalis jantan : bagian kepala memiliki warna bulu yang didominasi warna putih pucat keabu-abuan dengan bagian muka kurang bulat, serta hidung menonjol kedepan. Bagian dorsal jenis kuskus ini umumnya berwarna putih keabuan. Strep tengah dorsal sangat jelas terlihat berwarna coklat kehitaman yang mulai menjulur dari kepala hingga bagian posterior. Warna dorsal tersebut meluas hingga ke sisi ventral termasuk sisi luar kaki depan dan kaki belakang. Pada bagian ventral berwarna putih pucat yang cukup luas. Dan pada ekor memiliki bulu berwarna putih keabu-abuan, warna ini lebih pekat pada bagian dorsal ekor dan ventral terlihat lebih terang. Warna bagian ekor yang tidak berbulu adalah merah muda.

Phalanger orientalis betina : pada bagian kepala didominasi dengan warna coklat dan bentuk muka yang kurang bulat serta hidung menonjol ke depan. Bagian dorsal warna bulu umumnya didominasi berwarna coklat gelap dan pada ujung bulu tersebut terlihat seperti keabu-abuan. Strep bagian tengah dorsal sangat jelas terlihat berwarna coklat gelap mulai menjulur dari kepala hingga posterior. Pada bagian ventral berwarna putih pucat yang cukup luas. Dan pada bagian ekornya berwarna coklat muda, ini sangat jelas terlihat pada bagian dorsal ekor dan bagian ventral terlihat lebih terang. Warna ekor yang tidak berbulu adalah merah muda sedangkan yang berbulu berwarna kecoklatan.

Ancaman Satwa Kuskus

Penduduk yang mendiami wilayah pesisir teluk Cenderawasih hidup dari kemurahan alam dengan cara meramu, berburu, bertani, maupun memanfaatkan hasil laut. Berburu dan mengekstraksi satwa dari alam sudah merupakan kegiatan turun temurun dan terus dipraktekkan sampai saat ini, karena merupakan salah satu aspek hidup yang penting dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan lingkungan sosialnya. Di era modern ini, beberapa kelompok etnik Papua sangat bergantung pada perburuan sebagai bagian dari tradisi setempat, atau dengan kata lain, perburuan merupakan satu cara hidup masyarakat (Pattiselanno, 2007).

Kampung-kampung di sepanjang pesisir maupun yang berada di Pulau dalam kawasan teluk Cenderawasih merupakan salah satu habitat alami kuskus (Phalangeridae) di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Pattiselanno, 2007). Perburuan kuskus di kawasan ini dari waktu ke waktu semakin marak dilakukan. Beberapa studi di kawasan tropis, Robinson dan Redford (1994); Robinson dan Bodmer (1999) menyimpulkan bahwa perburuan satwa di area hutan hujan tropis tidak lagi sustainable (berkelanjutan) dan sumberdaya satwa liar di area hutan ini sangat rawan terhadap eksploitasi berlebihan, sehingga spesies satwa buruan dikhawatirkan dapat menuju kepunahan. Fenomena ini pula yang dikhawatirkan menimpa populasi kuskus di sepanjang pesisir TNTC, yang secara hukum dilindungi dengan UU no. 5 tahun 1990 tentang ketentuan mengeluarkan dan membawa atau mengangkut tumbuhan atau satwa yang dilindungi serta Peraturan Pemerintah RI no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Ancaman lain adalah Perdagangan dan penyelundupan satwa liar yang dilindungi di Indonesia masih terbilang tinggi. Survey terakhir ProFauna Indonesia di 70 pasar burung yang dilakukan pada 2009 menemukan ada 183 ekor jenis satwa dilindungi yang diperdagangkan. Dari 70 pasar burung/lokasi yang dikunjungi di 58 kota tersebut, tercatat ada 14 pasar burung yang memperdagangkan burung nuri dan kakatua, 21 pasar memperdagangkan primata, 11 pasar memperdagangkan mamalia dan 13 pasar memperdagangkan raptor (burung pemangsa). Selain itu tercatat ada 11 pasar lokasi yang memperdagangkan jenis burung berkicau yang dilindungi. (Pro Fauna, 2010)

Maraknya perdagagangan dan penyelundupan satwa liar tersebut berdampak semakin meningkatnya Perburuan terhadap satwa liar termasuk jenis kuskus, dan kadang perdagangan juga terang-terangan dilakukan di situs internet maupun di pasar-pasar tradisional. Belum adaanya tindakan tegas terhadap pelaku-pelaku, sehingga perbuatan ini akan terus berlangsung. Secara preventif barangkali sudah sering dilakukan kepada masyarakat yang mendiami atau berada berdekatan langsung dengan habitat aslinya. Diharapkan adanya kepedulian dari masyarakat terhadap perlindungan satwa liar dan habitatnya dengan melakukan pengaduan/laporan kepada pihak yang berwenang.

Pustaka

Astuti, Tri Widy. 2005. Eksplorasi jenis kuskus di pulau Yoop Distrik Windesi Kabupaten Teluk Wondama. Skripsi Mahasiswa FMIPA UNIPA. Manokwari. (tidak diterbitkan)

Balai Besar TNTC. 2010. Laporan Pelaksanaan Kegiatan Inventarisasi dan Identifikasi Satwa Liar di Pulau Numamurem Kawasan TNTC. Balai Besar TNTC. Manokwari. (tidak diterbitkan)

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora. 2010. Appendices I, II and III valid from 14 October 2010.

Pattiselanno, F. 2007. Perburuan Kuskus (Phalangeridae) oleh Masyarakat Napan di Pulau Ratewi Nabire – Papua. Biodiversitas. FPPK UNIPA. Manokwari.

Profauna. 2010. Catatan Tahunan 2009 ProFauna Indonesia: Perdagangan dan Penyelundupan Satwa Liar Indonesia Masih Tinggi. http://www.profauna.org/content/id/pressrelease/2010.

*) PEH Pertama pada Balai  Besar TNTC

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *