Jumat, 30 September 2016 - 08:54:45 WIB
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN UNTUK PENGELOLAAN EKOWISATA MANGROVE
Diposting oleh : TNTC
Kategori: Flora dan Fauna - Dibaca: 1754 kali

Ekosistem Mangrove memiliki peranan ekologi, sosial-ekonomi, dan sosial-budaya yang sangat penting; misalnya menjaga stabilitas pantai dari abrasi, sumber ikan, udang dan keanekaragaman hayati lainnya, sumber kayu bakar dan kayu bangunan, serta memiliki fungsi konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas budaya. Mangrove dapat tumbuh dengan baik di daerah pesisir yang memiliki sungai besar dan terlindung. Jenis tumbuhan mangrove memiliki kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan ekstrim seperti kondisi tanah yang tergenang, tanah yang memiliki kadar garam tinggi atau kondisi substrat berupa lumpur yang umumnya tidak stabil. Indonesia memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang cukup tinggi. Di wilayah Indonesia terdapat kurang lebih 202 jenis tumbuhan mangrove, meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palma, 19 jenis pemanjat, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis paku. Beberapa jenis merupakan mangrove sejati dan sebagian yang lain merupakan mangrove ikutan (Noor et al., 1999). Kerusakan ekosistem mangrove terjadi akibat pembukaan tambak, penebangan hutan mangrove, pencemaran lingkungan, reklamasi dan sedimentasi, pertambangan, sebab-sebab alam seperti badai/tsunami, dan lain-lain. Restorasi mangrove dapat menaikkan nilai sumber daya hayati mangrove, memberi mata pencaharian penduduk, mencegah kerusakan pantai, menjaga biodiversitas, produksi perikanan, dan lain-lain (Setyawan,2002). Konsep ekowisata merupakan salah satu alternative pengembangan pariwisata di kawasan hutan mangrove dengan tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan. Pengembangan kawasan hutan mangrove untuk kegiatan ekowisata diharapkan akan memberikan keuntungan secara langsung kepada masyarakat sekitar. Dalam Tuwo (2011) dijelaskan bahwa definisi dari Ekowisata adalah wisata berbasis alam dengan menyertakan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian ekologis. Pengelolaan pembangunan harus ditempatkan pada kawasan yang secara biofisik sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang dimaksud (Bengen et al., 2002). Kegiatan wisata yang akan dikembangkan harus disesuaikan dengan potensi sumber daya dan peruntukannya. Setiap kegiatan wisata memiliki persyaratan sumberdaya yang disesuaikan dengan obyek wisata yang akan dikembangkan. Penentuan kesesuaian berdasarkan perkalian bobot dan skor yang diperoleh dari setiap parameter yang diukur. Kesesuaian kawasan dilihat dari presentase kesesuaian yang dihitung dari semua parameter. Rumus untuk menghitung indeks kesesuaian wisata hutan mangrove yaitu :

indeks kesesuaian wisata

dimana : IKW: Indeks Kesesuaian Wisata

Ni: Nilai parameter ke-I (Bobot x Skor)

Nmaks: Nilai maksimum dari suatu kategori wisata

Menurut Yulianda (2007), kesesuaian wisata pantai kategori wisata mangrove mempertimbangkan parameter ketebalan, kerapatan, dan jenis mangrove, pasang surut dan obyek biota dengan klasifikasi penilaian seperti Tabel 1 berikut :

Tabel 1. Matrik kesesuaian untuk wisata pantai kategori wisata mangrove

tabel matriks kesesuaian

Sumber : Yuliana 1997

Kriteria kesesuaian untuk kawasan wisata mangrove dikategorikan sebagai berikut :

Nilai maksimum = 39 Nilai maksimum = 39 Nilai maksimum = 39

S1: Sangat sesuai, dengan nilai 83 – 100 %

S2: Sesuai, dengan nilai 50 – < 83 %

S3: Sesuai bersyarat, dengan nilai 17 – < 50 %

N: Tidak sesuai, dengan nilai < 17 %

Selain memperhatikan aspek kesesuaian, untuk mengantisipasi dampak negatif dari pengembangan wisata perlu pendekatan daya dukung dalam pengelolaan ekowisata sesuai dengan batas –batas kewajaran. Dalam kajian pariwisata, daya dukung lingkungan dinyatakan dalam jumlah wisatawan per satuan luas per satuan waktu. Luas dan waktu umumnya tidak dapat dirata-ratakan karena penyebaran wisatawan dalam satu luasan dan waktu tidaklah merata (Damanik dan Weber, 2006). Analisa daya dukung diperlukan dalam pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya pesisir untuk pengembangan wisata bahari. Mengingat tingkat kerentanan dan ruang yang terbatas untuk pengunjung maka perlu ditentukan daya dukung kawasan. Metode yang digunakan untuk menghitung daya dukung pengembangan ekowisata alam adalah konsep daya dukung kawasan (DDK). DDK adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Perhitungan DDK menggunakan rumus berikut (Yulianda, 2007) :

 rumus daya dukung kawasan

Keterangan : DDK: Daya Dukung Kawasan (orang/hari)

K: Potensi ekologis pengunjung per satuan unit area (orang)

Lp: Luas/Panjang area yang dapat dimanfaatkan (m2 atau m)

Lt: Unit area untuk kategori tertentu (m2 atau m)

Wt: Waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari (jam)

Wp: Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu (jam)

Potensi ekologis pengunjung ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang dikembangkan. Luasan area yang dimanfaatkan pengunjung harus memperhatikan kemampuan alam untuk mentolerir aktifitas pengunjung sehingga keaslian tetap terjaga.

Tabel 2. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt)

tabelpotensi ekologis

Sumber : Yulianda (2007); Nugraha et al.(2013)

Waktu kegiatan pengunjung (Wp) dihitung berdasarkan lamanya waktu yang dihabiskan pengunjung untuk berwisata. Waktu pengunjung diperhitungkan dengan waktu yang disediakan kawasan (Wt) yaitu lama waktu areal dibuka dalam satu hari untuk kegiatan wisata.

Tabel 3. Prediksi waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata

tabelprediksiwaktu

Selain memperhatikan aspek kesesuaian dan daya dukung, keberhasilan pengelolaan mangrove juga sangat dipengaruhi oleh kelembagaan pengelola dan karakteristik masyarakat yang berada di sekitar kawasan mangrove tersebut. Penentuan strategi pengelolaan dapat dilakukan dengan analisis potensi internal dan eksternal dari kawasan hutan mangrove sehingga nantinya dapat dirumuskan suatu strategi yang tepat. Perbedaan kondisi geografis dan kondisi sosial masyarakat dapat menyebabkan perbedaan strategi yang dirumuskan antara suatu daerah dengan daerah yang lainnya.  (Eko Setyawan,S.Si, M.Si *)

Sumber Pustaka :

Bengen, D.G. 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Sinopsis. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Damanik, J dan Weber, HF. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari Aplikasi ke Teori. Pusat Studi Pariwisata UGM. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Noor, Y.R., M. Khazali, dan I N.N. Suryadiputra.1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PHKA/Wetland International - Indonesia Programme, Bogor.

Nugraha, H.P., A. Indarjo, dan M. Helmi. 2013. Studi Kesesuaian dan Daya Dukung Kawasan untuk Rekreasi Pantai di Pantai Panjang Kota Bengkulu. Journal of Marine Research. Vol. 2. No. 2 : 130-139

Setyawan, A.D. 2002. Ekosistem Mangrove sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan Tawar dan Perairan Laut. Enviro 2 (1): 25-40.

Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut : Pendekatan Ekologi, SosialEkonomi, Kelembagaan dan Sarana Wilayah. Penerbit Brilian Internasional. Surabaya.

Yulianda, F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Makalah SeminarSains 21 Februari 2007. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan – FPIK. IPB. Bogor.  




0 Komentar :