Jumat, 30 September 2016 - 08:12:28 WIB
ANGGREK KELINCI (Dendrobium antennatum)
Diposting oleh : TNTC
Kategori: Flora dan Fauna - Dibaca: 1002 kali

Anggrek merupakan tanaman berbungayang sangat diminati karena bunganya yang indah dan berwarna-warni. Tanaman ini termasuk dalam famili Orchidaceae dan merupakan famili terbesar dari tanaman berbunga(Dressler, 1993). Salah satu jenis anggrek yang hidup di Papua adalah Anggrek Kelinci. Anggrek Kelinci (Dendrobium antennatum) sendirimemiliki klasifikasi ilmiah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Subkelas : Liliidae

Ordo : Orchidales

Famili : Orchidaceae

Subfamily : Epidendroideae

Tribe : Dendrobieae

Subtribe : Dendrobiinae

Genus : Dendrobium

Species : Dendrobium  antennatum Lindl.

Dendrobium ini terkenal dengan nama sebutan The Green Antelope Orchid. Tanduknya yang melintir berwarna hijau. Sepalnya menyerupai poni rambut yang juga melintir. Labellum berwarna putih dan memiliki corak berwarna ungu tua. Anggrek Dendrobium antennatum dinamai antennatum karena petalnya tegak mirip tanduk antelope (sejenis rusa). Di daerah papua disebut juga sebagai anggrek kelinci karena bentuk petalnya tegak seperti kuping kelinci.  Morfologi : Dendrobium antennatum memiliki bagian utama yaitu : akar, batang, daun dan perbungaan. Akar anggrek ini mempunyai dua jenis akar yaitu akar lekat dan akar gantung.   Batang  Dendrobium antennatum memiliki nodus-nodus yang sangat jelas. Sementara itu internodus-internodus dapat terisi cadangan makanan sehingga membentuk umbi semu yang dikenal sebaghai pseudobulb.  Daun Dendrobium antennatum merupakan daun tak lengkap karena tak bertangkai daun. Daun umumnya berjumlah 4-18 Helai pada setiap batang dengan bentuk bulat meruncing.

Perbungaan Dendrobium antennatum tumbuh pada ujung batang atau pada nodus batang dengan tipe resemose. Satu perbungaan terdiri dari 9-21 bunga. Bunga  memiliki sepal mengeriting kearah belakang, petal lateral yang tegak ke atas dan terpilin dengan labelum berwarna putih. Labelum memiliki lima keels dan corak garis berwarna ungu. Tangkai bunga mengalami resupinasi. Bunganya wangi lembut serta selalu

berbunga tanpa mengenal musim dengan ukuran bunga mencapai 7,5 cm.  buah biji. Biji anggrek tersebut memiliki struktur yang sederhana yaitu berupa kumpulan sel-sel homogen yang bersifat embrionik dan diselimuti oleh testa (seed coats). Testa merupakan lapisan sel mati memiliki strutur yang kaku dan kuat. Ukuran biji anggrek ini berkisar antara 0,3 mm dan 5 mm. Ekologi : Hidupnya epifitpada cabangcabang pepohonan dalam hutan daerah pantai hingga hutan hujan di pegunungan dan hidup di hutan pantai atau di ketinggian 0-800 m dpal. Anggrek ini tumbuh subur pada daerah bersuhu 16-19ºC pada malam hari dan 24-32ºC pada siang hari. Anggrek ini juga menyukai kelembaban dengan kisaran kelembaban antara 50% dan 80% dengan derajat keasaman media alami (pH) 7-7,5.Tanaman anggrek ini sangat menyukai cahaya matahari dengan intensitas yang banyak.

Penyebaran:  Adapun daerah penyebaran Anggrek Dendrobium antennatum yaitu hutan-hutan di Papua, negara Australia, Pulau Solomon.

Perbanyakan: Sistem perbanyakan konvensional pada anggrek Dendrobium antennatum biasanya dilakukan secara vegetatif, yaitu dengan memisahkan (memotong) tanaman anakan dengan induknya. Tanaman anakan dapat berupa tunas yang tumbuh dari pangkal batang atau dapat juga berupa keiki. Keiki merupakan tunas yang tumbuh dari nodus batang atau tangkai bunga. Perbanyakan secara generatif dapat melalui biji. Biji anggrek ini berkecambah secara alami dengan bantuan simbiosis mikorhiza untuk memperoleh nutrisi. Biji dapat disemai secara invitro dengan menggunakan media sebagai penyedia nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan anakan.

Maanfaat : Dendrobium antennatum dimanfaatkan dalam bentuk tanaman pot sebagai penghias ruangan atau pekarangan. Anggrek ini juga dapat digunakan sebagai salah satu pelengkap karangan bunga atau hiasan dekorasi dalam bentuk bunga potong. Dengan aromanya yang wangi Dendrobium antennatum berpotensi sebagai penghasil wangi-wangian.

 anggrek kelinci

 

Sumber :

Andi, W. R. 2009. Pertelaan Jenis Anggrek Di Seksi Konservasi Wilayah I Wahai Taman Nasional Manusela. Departemen Kehutanan Ditjen PHKA.

Dressler, R.L. 1982. The Orchids Natural History and Classification. Dalam: Puspitaningtyas, D. M. 2007. Inventarisasi Anggrek danInangnya di Taman Nasional Meru Betiri –Jawa Timur. Biodiversitas, 8 (3):210-214.

Dressler, R. L. 1993. Phylogeny and Classification of the Orchid Family. Oregon: Dioscorides Press.

Latief, S. M. 1960. Bunga Anggrek Permata Belantara Indonesia. Dalam: Puspitaningtyas, D. M. 2007. Inventarisasi Anggrek dan Inangnya di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur. Biodiversitas, 8 (3): 210214.

Madison, M. 1977. Vascular Epiphytes: Their Systematic Occurance and Salient Features. Dalam: Puspitaningtyas, D. M. 2007. Inventarisasi Anggrek dan Inangnya di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur. Biodiversitas, 8 (3): 210-214.

Media Publika Rumah Tangga Bagoes, 2009. Orchids Indonesia. Edisi 8 Tahun ke-2|Oktober-November 2009.

Joko Kusmianto, 2008. Pengaruh Thidiazuron. FMIPA Universitas Indonesia.Literatur.pdf

Tim BBTNTC, 2011. Inventarisasi Jenis Anggrek di Yopanggar BPTN wilayah II Wasior. Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih. 




0 Komentar :