Jumat, 06 Mei 2016 - 08:34:08 WIB
Keberadaan Kima (Tridacna) di Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Diposting oleh : TNTC
Kategori: Flora dan Fauna - Dibaca: 20148 kali

(Upaya Konservasi yang Terkendala Karena Nilai Ekonomisnya)

Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) yang merupakan Kawasan Konservasi Laut terluas di Indonesia dengan keanekaragaman sumberdaya alam di dalamnya mempunyai arti penting bagi upaya konservasi melalui tiga aspek yaitu 1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan; 2) Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa; dan, 3) Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Upaya konservasi saat ini diarahkan tidak hanya untuk melindungi atau menjaga segala keanekaragaman sumberdaya alam yang ada namun juga harus dapat memberikan manfaat yang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan konservasi dan tentunya di kawasan TNTC. Selain memiliki peran baik secara ekologi, sosial dan ekonomi bagi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan, TNTC memiliki potensi jenis flora dan fauna serta ekosistem khas yang memiliki fungsi ekologis penting. Potensi fauna diantaranya adalah biota laut yaitu moluska, di kawasan TNTC ditemukan 201 Jenis, termasuk diantaranya adalah  Kima (Tridacnidae) yang dikenal sebagai kerang raksasa dimana sebagian besar spesies yang ada di seluruh dunia terdapat di perairan Indonesia, dan 7 jenis diantaranya terdapat dalam kawasan TNTC. Kima (Giant clams) merupakan salah satu hewan laut yang dilindungi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Pada tahun 1987 pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 12/Kpts/II/1987 yang diperkuat dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 memasukkan jenis Kima yang hidup di Indonesia menjadi hewan yang dilindungi, dan jenis Kima tersebut juga masuk pada Appendix II CITES.

Walaupun hewan ini dilarang untuk diambil dari alam, namun pemanfaatannya masih tetap berlangsung. Hal ini bisa dilihat di berbagai tempat khususnya di wilayah pesisir masih banyak ditemukan cangkangcangkang (shells) Kima baik yang menumpuk di rumah penduduk untuk digunakan sebagi bahan bangunan seperti pondasi, penimbunan lahan kosong dsb, juga banyak ditemukan berserak di pantai khususnya cangkang yang kecil atau bahkan sebagai souvenir baik di warungwarung cinderamata di pantai atau di tokotoko khusus souvenir. Di beberapa wilayah bahkan hingga saat ini masih bisa ditemukan daging Kima segar yang dijual di pasar tradisional. Akibat aktifitas manusia tersebut menyebabkan menurunnya populasi kima secara drastis di alam.

Nilai Ekonomi Kima (Tridacna)

Tridacna (kima) atau biasa masyarakat Papua menyebutnya Biagaru merupakan sumber makanan yang memiliki banyak protein, selain dagingnya dapat dimanfaatkan digunakan untuk sumber makanan, cangkangnya umum digunakan untuk peralayan rumah tangga atau bahan baku bangunan. Pada tahun 1980an, cangkang Kima banyak digunakan sebagai bahan pembuatan ubin teraso dan di Papua cangkang kima digunakan untuk bahan kapur sebagai pendamping makan sirih yang merupakan kebiasaan masyarakat adat Papua. Saat ini permintaan terhadap Kima cukup besar, terutama dari Jepang. Akibat permintaan yang tinggi ini terjadilah eksploitasi berlebihan yang menyebabkan populasi hewan ini menurun. Beberapa spesies Kima yang sudah sulit untuk ditemukan adalah Tridacna gigas, Tridacna derasa, Tridacna squamosa, maupun dari genus Hipoppus seperti Hipoppus porcelanus dan Hipoppus hipoppus. Di Papua cara penangkapannya bisa dengan cara mengambilnya atau mencongkelnya dengan benda tajam,  karena jenis tersebut hidup di batu karang dan di antara karangkarang  walau sebenarnya  tidak  ramah bagi lingkungan.  Kandungan protein kima sangat tinggi, sehingga seringkali menjadi hidangan istimewa. Dan biasanya pengambilan ini sering dilakukan masyarakat ketika air laut mengalami pasang surut yang ekstrim hingga dataran karang yang luas muncul ke permukaan seperti menyerupai daratan. Saatsaat itulah masyarakat berbondongbondong mencari kima.

Kima Penyaring Raksasa di Lautan Luas

Kima  termasuk  dalam kelas Bivalvia, suatu kelompok hewan bertubuh lunak yang dilindungi sepasang cangkang bertangkup. Bernapas dengan insang yang bentuknya seperti lembaran yang  berlapislapis. Alat gerak berupa kaki perut yang termodifikasi untuk menggali pasir atau dasar perairan. Beberapa jenis, melekatkan diri pada substrat berbatu dengan semacam rambut atau organ yang disebut byssus.Cangkang kima terbagi menjadi beberapa lekukan atau lipatan (folds). Punggung   lipatan di permukaan  cangkang biasanya berbentuk seperti tulang rusuk sehingga sering disebut rib. Pada kima sisik,  kima  lubang dan kima Mauritius, tiap punggung lipatan memuat sebaris lempenglempeng berbentuk setengah mangkok yang disebut sisik (scutes). Sisik ini dulunya adalah bagian tepi dari mulut atau

bibir cangkang  (upper margin) yang kemudian tertinggal saat cangkang tubuh membesar. Di antara semua jenis kerang, kima adalah salah satu kerang dengan bentuk dan ciri yang paling unik. Ukuran cangkangnya sangat besar dan berat, sehingga disebut kerang raksasa (giant clam). Mantelnya yang memiliki sistem sirkulasi khusus, menjadi tempat tinggal bagi zooxanthellae,  makhluk aneh separuh hewan dan separuh tumbuhan yang berbulu cambuk dari marga Symbidinium. Selain pasokan bahan mentah, zooxanthella mendapat keuntungan lain karena mantel kima menjadi tempat yang nyaman untuk bernaung, berlindung dan berfotosintesis.  Zooxanthella  jugalah aktor di balik layar, yang menentukan warnawarni indah dari mantel kima. Setiap kima, memiliki warna dan corak motif yangberbeda, tergantung pada spesies  Symbidinium  yang menjadi pasangannya.  Kima sendiri mendapatkan keuntungan, karena  zooxanthellae  memberinya tambahan nutrisi yang disalurkan melalui sistem saringan makanan (filter food) si Kima.  Jadi, meskipun lingkungan perairan di sekitar kima sangat miskin unsur

hara, kerang raksasa ini masih dapat tumbuh dengan baik. Selain mendapatkan pasokan makanan dari zooxanthella, kima juga mencari makan dengan cara menyaring partikelpartikel organik dari air laut.    Aktifitas ini, secara langsung berperan penting dalam membersihkan air laut dari populasi mikroorganisme yang berlebihan. Kima mengambil makanan dengan cara membuka cangkang, lalu mulutnya berupa shipon akan menyedot air, menyaringnya lalu membuangnya. Inilah mengapa kima menjadi pahlawan ekologi dalam menjaga kebersihan perairan. Dengan demikian, air laut menjadi lebih sehat dan keseimbangan ekosistem pun lebih terjaga. Kima juga menjadi salah satu biota laut yang membuat terumbu karang berwarnawarni indah.

Konservasi Kima di TNTC

kima

Kima  merupakan  salah satu sumber kekayaan laut yang dimiliki Indonesia. Kima atau giant clam banyak  ditemukan  di ekosistem karang di perairan IndoPasifik, termasuk Indonesia. Dari sembilan spesies Kima yang ada didunia, delapan di antaranya ada di Indonesia. Kima sudah cukup dikenal oleh masyarakat pantai di Indonesia, terutama sekitar Sulawesi dan Papua. Sebab selain bernilai konservasi, Kima juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Di kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) Papua, dapat ditemukan berbagai spesies Kima antara lain Kima raksasa (Tridacna gigas), Kima besar (Tridacna maxima), Kima tapak kuda (Hippopus hippopus)  dan Kima lubang (Tridacna

crocea). Berdasarkan hasil inventarisasi dan monitor ing yang dilakukan di TNTC pada tahun 2011 dan 2014, memberikan gambaran bahwa jumlah populasi dari beberapa jenis kima cenderung mengalami penurunan.  Kepadatan populasi untuk beberapa jenis (Tridacna gigas, Tridacna squamosa, Tridacna derasa) mengalami peningkatan tetapi tidak signifikan. Sedangkan untuk jenis  Tridacna maxima  mengalami penurunan populasi. Namun secara keseluruhan populasi kima masih memiliki tingkat kepadatan yang sangat rendah yaitu berkisar 0,0088 ind/m2  hingga 0,0412 ind/m2 (Pulau Nutabari, 2014) dan 0,003 ind/m2 sampai dengan 0,023 ind/m2 (Pulau Rouw dan Pulau Matas, 2011).

Dalam  rangka menjaga populasi kima maka diperlukan suatu kegiatan konservasi melalui usaha pengelolaan yang meliputi aspek sosialisasi dan penyuluhan, penegakan hukum dan peraturan, restoking, kearifan tradisional dan usaha budidaya. Menurut Ambariyanto (2002), sebagai usaha  untuk menjaga maupun mengambangkan populasi kima di alam maka diperlukan suatu usaha konservasi melalui sistem pengelolaan populasi kima yang tepat, termasuk di dalamnya adalah penegakkan hukum dan peraturan, restoking dan usaha budidaya. Disamping itu pengelolaan populasi kima berbasis masyarakat juga merupakan hal yang perlu dilakukan. Masih menurut Ambariyanto PhD (Peneliti dan Staf Jurusan Kelautan Universitas Diponegoro Semarang), untuk menghindari kepunahan Kima, beberapa metode pembenihan telah dikembangkan. Metode pembenihan buatan yang dikembangkan ini sebenarnya cukup mudah dilakukan dengan bantuan perangkat tambahan tertentu. Aspari Rachman, Dosen Jurusan Perikanan Bidang Manajemen Sumber Daya Hayati Perairan Universitas Hasanuddin mengatakan budidaya Kima untuk konservasi tidak terlalu sulit. Namun umumnya orang enggan membudidayakan Kima pedaging karena memakan waktu cukup lama. “untuk Konservasi cukup 3 - 4 tahun, namun untuk pedaging bisa sampai 10 tahun”, ujarnya. Aspari pernah mengadakan program pembudayaan Kima sewaktu Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan  Marine Science  dan ADB (Asian Development Bank) untuk program konservasi Kima. Akan tetapi sampai saat ini pembudidayaan Kima di Indonesia masih jarang dilakukan. Menurut Aspari, hal ini disebabkan lamanya proses budidaya serta biaya yang harus dikeluarkan. “Di Indonesia tidak (banyak dikembangbiakkan) karena proses budidaya cukup lama. Selain itu, sulit untuk memperoleh bibit dan biaya teknologi pembibitan lumayan mahal”, ujarnya. Itulah sebabnya sampai saat ini, Kima di Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Besarnya fungsi dan manfaat kima ini justru membuat dirinya terancam punah karena nilai ekonomis yang dimilikinya. Karena kima tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, maka upaya konservasi  inilah yang berjuang demi kelangsungan hidup kima untuk generasi mendatang, supaya anak cucu kita masih bisa melihat kima tumbuh di alam bebas di laut yang terjaga kebersihannya./ Sumaryono

Daftar Pustaka

Ambariyanto. 2007. Pengelolaan Kima Di Indonesia Menuju Budidaya Berbasis Konservasi. Seminar Nasional MOLUSKA: dalam Penelitian, Konservasi dan Ekonomi Jurusan Ilmu Kelautan, FPIK UNDIP, Semarang.

Dibyowati, Lia. 2009. Keanekaragaman Moluska (Bivalvia dan Gastropoda) di Sepanjang Pantai Carita, Pandeglang Banten. FMIPA IPB. Bogor. Skripsi Mahasiswa (tidak diterbitkan).

Mudjiono. 1988. Catatan Beberapa Aspek Pertumbuhan Kima, Suku Tridacnidae (Molusca, Pelecypoda). Oseana, Volume XIII. UPT Balai Konservasi biota laut Ambon. LIPI. Jakarta.

Mudjiono. 2009. Telaah Komunitas Moluska di Rataan Terumbu Perairan Kepulauan Natuna Besar Kabupaten Natuna. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia. UPT Balai Konservasi biota laut Ambon. LIPI. Jakarta.

Tandana, R. 2010. Faktorfaktor yang mempengaruhi distribusi kima (Tridacna spp.) di Perairan Pulau Purup kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih. FPPK UNIPA. Manokwari. Skripsi Mahasiswa (tidak diterbitkan)

Kementerian Kehutanan. 2011. Laporan Inventarisasi dan Identifikasi Kima di Pulau Nutabari pada Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Nabire. Balai Besar TNTC. Manokwari. (tidak diterbitkan)

Kementerian Kehutanan. 2011. Laporan Inventarisasi dan Identifikasi Kima di Pulau Rouw dan Pulau Matas pada Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Wasior. Balai Besar TNTC. Manokwari. (tidak diterbitkan)

Kementerian Kehutanan. 2014. Laporan Monitoring Jenis dan Populasi Kima di Pulau Nutabari pada Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Nabire. Balai Besar TNTC. Manokwari. (tidak diterbitkan)

http://dody94.wordpress.com/2011/05/05/kimakerangraksasayangsemakinlangka/ 




0 Komentar :