Kamis, 31 Maret 2016 - 12:17:31 WIB
Karakteristik Masyarakat di Kawasan TNTC
Diposting oleh : TNTC
Kategori: Sosial Budaya - Dibaca: 46880 kali

a. Penduduk

Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih sebelum ditetapkan sebagai taman nasional sudah terdapat penduduk yang bermukim dalam kawasan. Penduduk asli setempat berasal dari suku,Wamesa yang berasal dari tanah besar Pulau Papua. Bahasa asli penduduk setempat adalah bahasa Wandamen, namun sebagian besar masyarakat sudah mampu menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi sehari-hari . sedangkan suku pendatang berasal dari Bugis, Buton, Biak, dan Sorong. Sebagian besar penduduk dalam kawasan bermata pencaharian nelayan. Hal ini berkaitan erat dengan lingkungan tempat tinggalnya yang selalu berinteraksi dengan laut.

 masyarakat mengolah sagu pengolahan ikan asin

 

b.  Struktur Masyarakat

Struktur masyarakat sudah tersusun dalam bentuk organisasi pemerintahan modern, yaitu Kepala Daerah TK I, Kepala daerah TK II, Kepala Distrik, kepala desa, kaur keamanan, kaur pembangunan, kepala dusun, dll. Namun demikian masih terdapat lembaga-lembaga adat yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Masih terdapat kumpulan-kumpulan keluarga (marga) yang secara turun temurun menguasai hak ulayat  di wilayahkawasan TNTC, maupun di tanah besar Papua. Hak ulayat tersebut diturunkan secara turun temurun langsung dari nenek moyang mereka. Misal dalam pengaturan perkawinan, diantara keluarga (marga) tidak diperkenankan untuk menikah. Selain itu masih terdapat kepala suku yang mengatur kegiatan-kegiatan budaya, serta mengatur mengenai hal-hal yang bersifat adat dan sebagai narasumber sejarah kampung. Selain struktur pemerintahan modern dan adat, masih terdapat lembaga-lembaga non formal yang mengatur masyarakat, yaitu gereja. Lembaga-lembaga yang ada dibawah gereja, adalah Persatuan Kaum Bapak, Persatuan Wanita, dan sekolah minggu untuk anak-anak. Masing-masing perkumpulan tersebut juga mempunyai aturan-aturan yang mengatur kegiatan bermasyarakat  kampong yang berada di dalam kawasan .
 

c.  Tempat tinggal

Secara khusus model rumah adat masyarakat  sudah lama ditinggalkan. Setelah ada proyek pembangunan rumah dari dinas sosial, lambat laun rumah khas masyarakat setempat sudah ditinggalkan. Namun demikian apabila kita berkunjung ke Pulau/ kampung masih bisa dijumpai sejumlah rumah tersebut. Rumah asli masyarakat yang berbentuk rumah panggung dengan atap dari daun sagu (rumbia), dengan dinding dari pelepah daun aren dan lantai dari kulit kayu sagu

  rumah adatmasyarakat tradisional yende

d.  Adat Istiadat

Adat yang ada di masyarakat masih mengikuti warisan leluhurnya yaitu dari Suku Wamesa. Sedikitnya kelompok masyarakat yang berasal dari suku lain, membuat hampir seluruh adat yang berkembang merupakan adat Suku Wamesa. Kebudayaan yang ada dalam masyarakat yang dapat disaksikan berupa Upacara adat yang masih secara aktif dilakukan antara lain : Upacara tindik telinga, upacara pelepasan perahu, upacara gunting rambut, upacara penyambutan tamu, budaya pemakaman dalam gua, tari balengan dan seruling tambur, yang dapat mempersatukan hubungan antar masyarakat setempat. Dalam hal penggunaan bahasa pengantar sehari-hari, masyarakat masyarakat menggunakan bahasa Wamesa, namun demikian hampir semua masyarakat yang berada di kawasan mengerti bahasa Indonesia. 




0 Komentar :